Serasa Sidang di Senayan (2)

Sedikit cerita lagi di Seminar Nasional…

Ada 1 hal penting yang saya lewatkan. Acara yang mengangkat tema “Membangun Optimisme Baru Dalam Kebangkitan Daya Saing Bangsa” ini menggunakan format Seminar. Di dalam seminar tentu saja ada “Moderator”.

Untungnya… Moderator bisa membawa peserta untuk mengurangi perasaan seperti-sedang-sidang-di-Senayan.:mrgreen:

Moderator pertama adalah Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si, yang tidak lain tidak bukan, adalah rektor Universitas Pasundan. Paras Pak Didi yang menurut saya mirip Pak Effendi Gazali (penggagas Republik Mimpi) membawa angan saya ke sebuah acara talk show di tv yang selalu diisi oleh gurauan-gurauan cerdas. Ketika saya masih berada dalam angan2 tersebut, tiba2 pak Didi nyeletuk dengan melantunkan sebuah Puisi (lupa syair puisinya euy). kontan seluruh peserta tertawa…:mrgreen:

Cara Pak Didi mengenalkan para pembicara pun tergolong unik. Setiap pembicara, mulai dari Pak HNW hingga Pak Ginanjar diberi ‘2 ucapan selamat’ (lagi2 lupa, apa saja yang di-‘selamat’-kan oleh Pak Didi). Kecuali Pak Jendral Djoko, yang diberi rasa simpati atas kondisi ketahanan negara akhir2 ini. Lelucon pak Didi pun berlanjut, mulai dari yang “cerdas”, “vulgar”, hingga menyerempet masalah “gender”, membuat suasana di ruang “sidang” menjadi hangat.

Lelucon dari Pak Didi ini cukup membawa dampak positif. Para pembicara pun jadi tak ingin kalah dengan lelucon-lelucon dari Pak Didi. Seperti pak HNW yang membalas “ucapan selamat” pak Didi. Pak Agung Laksono yang ikut2an pak HNW menggunakan kata “Founding Mothers” disamping “Founding Fathers”, sambil menyinggung pernikahan Pak HNW yang dilangsungkan beberapa hari kemarin. Pak Ginandjar Kartasasmita yang mempertanyakan “Apa gunanya DPD?” padahal dia sendiri adalah ketua DPD. Atau Pak Jendral Djoko Santoso yang, sambil tertawa sedikit, memberi salam pada Pak Djoko Santoso (Rektor ITB) yang kebetulan namanya sama.:mrgreen:

Diskusi di sesi ke-II yang dimoderasi oleh Prof. Ir. Eko Budiharjo (rektor Undip) tak kalah menariknya. Sesi ke-II ini juga dibuka dengan lantunan puisi dari Pak Moderator, dan lagi-lagi membuat susana “ruang sidang” menjadi hangat.😀 oh iya, pembicara di Sesi ke-II ini adalah Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso , MSc. (rektor ITB), dan Prof. Dr. Emil Salim.

Pak Emil Salim (berdiri) menyampaikan seminar

hmm… berikut lelucon yang saya ingat dari Pak Eko Budihardjo:

Jaman dahulu, para ahli berebut untuk mengklaim bahwa bidang keahliannya lah yang merupakan awal dari segala ilmu.
Para dokter mengklaim bahwa ilmu kedokteran lah yang merupakan asal-muasal semua ilmu karena Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. “Mana mungkin tulang rusuk bisa diambil tanpa melakukan operasi” klaim para dokter
Namun hal ini dibantah oleh ahli kelautan. “bukan ilmu kedokteran!! sebelum Adam dan Hawa diturunkan, bumi dan laut terlebih dahulu dibuat. Ilmu kelautan sangat dibutuhkan dalam penciptaan itu!!!”.
Tapi klaim oleh para ahli kelautan tersebut dibantah oleh seseorang.
“Tidak bisa!! alam semesta diciptakan dari sebuah chaos. Oleh karena itu, ilmu yang saya miliki lah yang merupakan ilmu dari segala ilmu”.
“memang anda ahli dalam bidang apa?” tanya dokter dan ahli Kelautan.
“saya ahli dalam bidang chaos, yaitu: FISIP”

note: tanpa mengubah inti dari lelucon, leluconnya saya ubah2 dikit, biar enak dibaca…:mrgreen:

~ by Anto'Nio' on May 19, 2008.

2 Responses to “Serasa Sidang di Senayan (2)”

  1. heheheheh😀 asyik juga tu kaya nya

  2. Iyah,bener…asik jugah…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: