Me In The Middle of: Khayalan Makan Siang

Gw udah pernah cerita tentang Prancis belum ya? ntar, gw cek dulu dipostingan2 gw sebelumnya. Susah nyarinya nih… (Padahal baru posting belasan tulisan.. hihihih…).

OK, Prancis. eitsss… jangan tertipu dengan namanya ya.. karena anda tidak akan menemukan croisant, coq au vin, atau makanan Perancis lainnya di sini. Atau jangan sekali-kali mengajak pemilik warung ini berbicara dengan bahasa Perancis, apalagi bahasa Jawa, karena pemilik warung ini ASLI ORANG SUNDA.. (ya Alloh… lupa namanya!!!)

Warung ini menjadi favorit gw dan temen2 gw untuk santap siang. Menurut gw, selain dari harganya yang Mahasiswa banget, daya tarik utama dari warung yang terletak di jalan Gelap Nyawang ini adalah sambel terasinya yang sangat istimewa. Mungkin bukan hanya gw aja yang setuju menjadikan Prancis sebagai tempat makan siang favorit, karena hampir setiap hari Prancis dipenuhi oleh pelanggan. Pelanggannya datang dari kalangan Mahasiswa sampai Office boy, karyawan PDAM sampai tukang parkir, pokoknya merakyat banget deh…

Nah…. tadi siang, sambil menikmati Jus Jambu, gw ngobrol sama Tri, temen gw… Kami ngobrolin tentang khayalan warung Prancis ini kedepannya. Topik ini muncul karena Prancis meluaskan tempat makannya dengan menyewa lapak baru disebelahnya, juga merekrut kader-kader baru setelah libur Lebaran 2007 kemarin…. dan berikut khayalan-khayalan kami mengenai warung Prancis ke depannya…

—————————

Tri: “wah… si Aa eta ayeuna jadi gawe di Prancisnya?! baheula mah pan ngajagaan warung nu digigir eta” (terjemahan: wah.. si Abang itu sekarang jadi kerja di Prancis ya?! Dulu kan ngejaga warung yang disebelah itu)
Anto: “iyah.. betul.. jigana mah areuk ekpansi deui Prancis yeuh” (terjemah: iya.. betul.. kayaknya mau ekspansi lagi Prancis nih)

dan pembicaraan tentang perkiraan ekspansi Prancis pun berlanjut…. begini ceritanya:

Beberapa tahun setelah kami lulus, Prancis sudah menguasai Gelapnyawang bagian barat. Konsumen yang bertambah banyaklah yang telah memaksa ekspansi besar-besaran ini. Di tahun ini, Warung Prancis mengurangi angka pengangguran di Bandung sebanyak 20 kepala (dikit ya? keun wae lah…).

Tidak lama setelah melakukan ekspansi ini, Prancis mulai membuka cabang baru di dekat kampus-kampus lain di daerah Bandung, yang berarti pemasukan bertambah dan pengangguran berkurang. Sebagai rasa terima kasih atas antusias masyarakat kampus ITB di awal-awal berdirinya Prancis, Prancis memberikan beasiswa voucher makan siang untuk Mahasiswa ITB. Di tahun ini Prancis baru mampu menyantuni 5 mahasiswa.

Tak lama berselang, dengan prinsip pemilik untuk tetap menjaga kualitas dan harga yang terjangkau, Walikota Bandung memberikan penghargaan kepada warung Prancis sebagai ‘warung rakyat’. PDAM kota Bandung dan ITB adalah yang pertama dan kedua dalam menjadikan Prancis sebagai mitra dalam hal Konsumsi, Prancis mendapat pelanggan tetap!!! Prancis Foundation didirikan. Prancis Foundation merupakan lembaga non-profit. Pendapatan Warung Prancis disalurkan melalui Prancis Foundation ini berupa Beasiswa. Beasiswa pun sudah mampu diberikan kepada 150 Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung, meskipun masih berupa voucher makan siang..

Memang strategi yang tepat bagi Prancis untuk memberikan Beasiswa kepada mahasiswa. Banyak mahasiswa penerima beasiswa yang nantinya bergabung dengan Prancis Foundation dan membesarkannya..

Dengan bertambahnya kekuatan Prancis Foundation, pemilik Prancis menjadi dekat dengan lingkungan politik Bandung, tokoh-tokoh ternama di Bandung segan terhadap Prancis Foundation. Tak lupa, Prancis Foundation menjadi sponsor utama Persib FC dan menjadi satu-satunya sponsor sepakbola non-produk rokok di Indonesia kala itu.

[bersambung]

~ by Anto'Nio' on April 10, 2008.

2 Responses to “Me In The Middle of: Khayalan Makan Siang”

  1. pikirin dulu diri sendiri, sebelum memikirkan orang lain😛 he..he.. heureuy ah…

    setuju Mad… dari kemaren mikir, knapa ngga mikirin masa depan saya dulu… huhuhuu..

  2. mikir terus sampe mampus…

    Bagaimanapun juga enjang setuju dengan apa yang dipikirin Anto dan Tri, tapi itu warung kan punya orang lain…

    BTW, ga hanya sambelnya saja yang jadi ciri khas, yang utama sih makan sepuasnya karena kita ambil sendiri menu-menunya, itu mah Amin, He.. He…

    Ya ha Teh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: