Me In The Middle of: Quantum FC dan Sportsmanship

Ada yang tahu klub “Quantum FC”? Mungkin hanya segelintir orang yang tahu. OK.. Quantum FC adalah nama klub sepakbola milik Fisika ITB angkatan 2004. Dari hasil iseng-iseng menantang anak-anak Polman jurusan Mekatronika dan penderitaan yang kami rasakan ketika UTS Fisika Kuantum, maka terbesitlah ide untuk membentuk tim “Quantum FC”. Latihan pun menjadi “mata kuliah wajib” kami untuk tiap minggunya… hmm… tunggu..tunggu.. cukup sudah membicarakan tentang sejarah QFC, nanti saya buat tulisan khusus membahas sejarahnya ya…

Kemarin, berlangsung latih tanding antara Quantum FC Alpha dan Quantum FC Beta. Pertandingan yang berdurasi 3 jam tersebut dimenangkan oleh Quantum Alpha dengan skor 26-21. Komposisi cadangan pemain menjadi alasan faktor utama kenapa Quantum Beta bisa kalah dengan selisih gol yang cukup mencolok. Eh, sekedar nyombong nih. saya ngegolin loh!!! Padahal posisi saya adalah seorang kiper… huahahaha…!!!

Quantum Alpha memang seringkali memenangi latih tanding tersebut. Sejauh ini, rekor pertandingannya adalah 5-2 untuk Alpha. Saya, sebagai kiper utama Quantum Beta, tentu saja memiliki 1Terra alasan kenapa kami selalu kalah. Tapi alasan memang selalu bisa dicari. Atau haruskah diriku bertanya pada bintang-bintang? (teu nyambung ah…)

Yang mau saya bahas di tulisan ini bukan reportase mengenai pertandingan kemarin. Tapi lebih kepada curahan hati, sikap, dan mental saat saya sedang memakai kostum bernomor punggung 01 tersebut..

Olah raga… Sports… Coba tengok sejenak web wikipedia.org dan cari artikel mengenai ‘Sports’.

Sport is an activity that is governed by a set of rules or customs and often engaged in competitively. (http://wikipedia.org)


Di tengah-tengah berlangsungnya pertandingan kemarin, saat Quantum Beta tertinggal 8 angka, saya sempat berpikir “BEK NYA MANA SIH!!!!!”. Alhasil, saya pun jadi cemberut, atau “Baeud” dalam bahasa Prancis. Menjaga gawang pun jadi malas-malasan. Ah… pokoknya mah negatif semua deh… dan tampaknya energi negatif tersebut menyebar ke anggota Quantum Beta yang lain… huhuuuu… maafkan diriku kawan-kawan…😦

Dan setelah cape ber-“baued” ria (it didn’t help us!!!! serius!!!!), saya jadi teringat dengan salah satu tulisan di buku “Laa Tahzan”, tentang tersenyum (hueeee… lagi maen bola masih sempet mengingat-ingat buku….). Karena senyuman pada saudaramu yang sedang kesusahan ibarat Matahari yang menghangatkan jiwa. Setelah mengingat hal tersebut, saya cepat-cepat membuang cemberut dari muka saya dan mulai fokus pada pertandingan. Malas pun saya ganti dengan semangat.
Hasilnya, kita mampu mengejar dan kalah hanya dengan selisih 5. 2 gol terakhir tim Beta di cetak oleh saya dan Tri.

Sikap saya saat tim Beta tertinggal 8 angka jelas bukan contoh untuk ditiru. Kalah sebelum bertanding, menyalahkan orang lain, berleha-leha, dll, semua bukan sifat seorang yang menjunjung nilai sportifitas.

Five facets of sportsmanship have been identified:

  • Full commitment to participation (e.g., showing up, working hard during all practices and games, acknowledging one’s mistakes and trying to improve)
  • Respect and concern for rules and officials
  • Respect and concern for social conventions (e.g., shaking hands, recognizing the good performance of an opponent)
  • Respect and concern for the opponent (e.g., lending one’s equipment to the opponent, agreeing to play even if the opponent is late, not taking advantage of injured opponents)
  • Avoiding poor attitudes toward participation (e.g., not adopting a win-at-all-costs approach, not showing temper after a mistake, and not competing solely for individual prizes)

(http://en.wikipedia.org/wiki/Sportsmanship)


Meskipun hanya pertandingan “main-main” bukan berarti kita tidak mengindahkan sikap sportif kan?

Sudah tidak sabar untuk bertanding lagi nih…. hohoho…🙂

~ by Anto'Nio' on March 23, 2008.

3 Responses to “Me In The Middle of: Quantum FC dan Sportsmanship”

  1. hehehehe…… numpang nyoret dikit…. jadi yang pertama nih yang komentar kayaknya.

  2. numpang komentar ntox… weheheheh… hue hue, satuju ama ntox, bahwa kadang mun kita na “baeud” teh pasti berpengaruh ama yang laen, makan nya, mao kalah ato gimana juga yang penting bertanding lah yang terbaik, dan selalu tersenyum…

    ntox, mun jadi kiper kudu banyak teriak, tonk cicing wae, matak na saya ge sok rada “ngatur” yang laen, khan sebagai kapten yang baik harus bisa mengatur, hehehehe… coz kalo kiper khan bisa ngeliat ke depan, beda ama para pemaen belakang, yang kadang membelakangi lawan, jiga kamari, kadang si madrid ada di belakang bek-bek tim alpha, komo saya, kadang ada di depan kamu, trus nemenin kamu ngejaga gawang deh, wakakakaka

    yu ah… sama, tak sabar untuk bertanding lageh…

  3. Wah itu bang asisten, pakai nama samaran, ya pasti orangnya itu…

    Makyus to, kalau begini siap2 aja kamu jadi selebriti blog, minimal di kalangan mahasiswa fisika.

    Ato udah all out ko kemarin, cuman kayaknya kurang ngatur bek aja, emang setiap kiper punya style sendiri2 tentang masalah ini, coba kamu pelajari cara teriak kahn, iker, toldo, doni, dan kiper yahud yang lainnya, terserah pilih yang mana, tapi saya berharap Ato punya style sendiri juga. Ga me-niru2 yang lain.

    Yu ah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: