Me In The Middle of: Tikus @ dapur rumah ku…

Hanya mencoba menangkap tikus. Dan mencoba dituangkan dengan agak serius. tentu tanpa mengurangi fakta-fakta yang terjadi

———————————————
Saat ku turuni tangga, terlihat wajah mama yang serius. Matanya seakan fokus pada sesuatu, membuat keriput di sekitar matanya menjadi jelas terlihat. Senyum yang biasanya menghiasi tidak nampak di bibirnya saat itu. Dengan kedua tangan, mama menggenggam sapu yang biasa beliau pakai untuk membersihkan dapur.

Akhirnya aku sampai di dapur. Yang pertama ku perhatikan adalah keadaannya yang sudah seperti dapur kapal perang. Ku lihat baki yang tergeletak, rak peralatan memasak yang keluar dari lemari, kulkas yang sudah tidak berada pada posisi yang biasanya. Papa, seperti mama, air mukanya nampak serius. Dengan posisi seperti mau memukul sesuatu, papa memberi ku sapu.

“Tikusnya di sudut itu to..!! Kasih gangguan..!! Nanti kalau sudah keluar tikusnya, biar papa yang pukul..”, papa menyuruhku sambil memberikan sebuah sapu.

Tanpa perasaan gentar, dan demi terciptanya kedamaian di dapur rumah ini, akhirnya aku melangkahkan kaki ku. Ku ayunkan sapuku berkali-kali ke sudut yang dimaksud. Tidak ada reaksi. Akhirnya kuberanikan diri untuk sedikit melihat ke sudut yang agak tertutupi oleh keranjang sampah itu. Kosong. Tak ada satupun makhluk hidup berukuran makro yang berada di sudut.

“Ngga ada apa-apa pa..!!”, laporku kepada papa.
“Coba lihat di balik kulkas”, pinta papa.

Kulongokkan sedikit kepala ku ke belakang kulkas. Masih belum terlihat jelas. Kali ini aku coba sedikit menggeser posisi kulkas. Mulai terlihat tabung freon, kabel-kabel yang semuanya terlihat berdebu.

“Ngga ada juga pa…!!”, laporku lagi.
“Eh, bentar…!!”

Aku melihat sesuatu yang ganjil. Tikus!! Dengan bulunya yang coklat, dan serupa dengan kotornya belakang kulkas, mata ku sempat tertipu. “betulkah itu tikus??”, aku sempat bertanya dalam hati. Begitu kuperhatikan lebih lanjut. Bulu. Aku mulai melihat bulu. Ku telusuri lagi. Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas, sesosok tikus dengan bulunya yang berwarna coklat dan buntutnya dengan pola cincin yang khas.

Ku ayunkan sapu ku, kali ini dengan niat mengeluarkan tikus tersebut dari belakang kulkas. Berhasil !!. Tikus keluar dari belakang kulkas. Ia berlari ke balik nampan yang tergeletak tak jauh dari kulkas. Kali ini aku melihat papa. Tanpa sepatah kata apapun, hanya dengan kontak mata, kami saling mengerti apa yang akan dilakukan selanjutnya. Ku ayunkan lagi sapu ku, kali ini dengan niat menggiring tikus tersebut ke jangkauan sapu papa.

Bletak…!!! Aku mendengar suara sapu yang terkena lantai. 3 kali papa mencoba memukul tikus. Tapi tikus itu masih lolos. Peperangan belum berakhir…

Kini medan perang berpindah ke tempat penyimpanan panci-panci besar yang letaknya berada tepat di sebelah mesin cuci. Dan kali ini giliran papa beraksi. Papa berusaha memperkecil ruang gerak tikus dengan mengeluarkan panci-panci itu satu persatu, tentu saja masih dengan waspada dan sapu di tangan kanan. Aku mengawasi dari belakang, sambil bersiaga jika tikus itu ingin berpindah lokasi peperangan. Setelah beberapa panci dikeluarkan, akhirnya tikus itu muncul. Tikus itu tampak kebingungan. Sudah tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi. Tikus itu begitu gesit bergerak kesana kemari, namun gerakan sapu papa dalam menutup ruang tidak kalah gesitnya. Setelah beberapa detik berkejaran dengan sapu, akhirnya sang tikus kabur melalui saluran buangan air cucian. Papa yang tidak melihat kaburnya sang tikus masih terus mencari.

“Udah kabur pa..” laporku segera setelah melihat papa yang masih kebingungan mencari tikus tersebut.
“Oh ya?? Ke mana??”, tanya papa dengan nada tak percaya.
“Lewat lobang air…”, jawabku segera.
“Oh, ya sudah. Tinggal ditutup lobangnya”, perintah papa ku.

Setelah keadaan kembali mereda, kami pun langsung merapikan keadaan dapur. Senyum di wajah mama, walaupun hanya sedikit, sudah kembali ada di wajahnya. Papa juga sudah kembali tenang. There are no more rats..!! Yaay…!!!

 

Dan pikiranku masih melayang memikirkan nasib sang tikus. Tikus, semoga kamu bertaubat dan tidak menggangu ketentraman dapur rumah tangga yang lain. Sudah cukup beruntung nyawamu tidak melayang di tangan kami. Moga-moga kamu dapat memetik hikmah dari kejadian ini. Mati dengan cara apakah nanti kau tikus?? di makan oleh pak Kucing?? atau mati terlindas motor dan mobil yang lalu lalang..?? Dan lagipula, kau cuma seekor tikus..

——————————————————————————

~ by Anto'Nio' on November 7, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: