• ...


    When I talk about the pain and hardship of a scientist’s life, I’m speaking of more than existential angst. Galileo’s work was condemned by the Church; Madame Curie paid with her life, a victim of leukemia wrought by radiation poisoning. Too many of us develop cataracts. None of us get enough sleep. Most of what we know about the universe we know thanks to a lot of guys (and ladies) who stayed up late at night.
    -Leon Lederman-
  • Tanggal

    Juli 2008
    S S R K J S M
    « Jun    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Kategori

  • Foto

    mei0038

    mei0026

    mei0024

    DSC07674

    More Photos

Twenty Two

Menanti datangnya jam 12 malam ditemani lantunan lagu Sore, “Senyum Dari Selatan”

Kaulah pelita bulan, di atas sana
Yang tak mungkin pernah menurun
Kisah, ku melantunkan dan menghamburkan harapan yang tak ada
dan akan terus meluas, mengupas hidupku
Jika kau mengizinkan, ku akan terus menaklukkan
Ku ragu dan akan terus mengupas, menguras hidupku

yah.. beberapa menit lagi umur saya bertambah.. maaf, bukan berarti kemarin-kemarin (di hari biasa) umur saya tidak bertambah, tapi setidaknya di hari ini (minimal setahun sekali) saya jadi ingat untuk introspeksi diri dan mengingat bahwa jatah hidup saya di dunia sudah mulai berkurang..

mengingat-ingat apa yang sudah saya capai.. impian-impian apa yang belum tercapai.. bekal apa yang sudah saya siapkan untuk Hari Pembalasan nanti..

hahaha.. agak miris juga bila mengingat besok (beberapa jam lagi) akan digelar wisuda ITB.. klo saja saya kuliah dengan benar selama 4 tahun kemaren, kemungkinan besok saya ulang tahun dirayakan dengan wisudaan.. hehehe.. hanya berandai-andai.. toh penyesalan selalu datang belakangan.. nasi sudah menjadi bubur, mau dikata apa lagi.. toh bubur dipakein kecap, cakue, bumbu rahasia, merica, daging ayam yang disuir2, plus kerupuk kan jadi enak juga..

tinggal bagaimana saya menyikapi kehidupan saya kedepannya.. :)

masih berusaha menyingkirkan sifat pamrih.. masih berusaha menyingkirkan sifat pemalas.. masih belajar bersabar.. masih belajar ilmu ikhlas..

sambil menanti pukul 00.00, saya berdoa:

ya Allah.. jika dia adalah jodohku, dekatkanlah.. jika dia bukan jodohku, mohon pertimbangkan lagi..

ampuuuun… bener2 postingan ga jelas… hahahaha… :mrgreen:

dan hape berdering… ada sms masuk…

Weird Driving Week…

Wow… minggu kemarin merupakan minggu berkendara untuk saya…

Hari Selasa sampai Kamis pagi saya bertukaran sepeda motor dengan teman.

Ceritanya, teman saya itu hendak pergi keluar kota untuk mengambil data TA (tugas akhir), jadi dia membutuhkan sepeda motor dengan kapasitas mesin yang cukup besar, dan kebetulan motor saya berkapasitas 125cc. Ya sudah, saya tukar saja untuk sementara sepeda motor milik saya dengan miliknya.

baca lagi

Bukan Permainan (versi hemat air)

Bila nanti, aku mandi,
tukang air ku panggil kembali
Bila nanti, aku mandi,
tak ‘kan ada bau badan lagi

Pre Chorus:
Kita, bisa, mandi lagi, nyuci lagi
Apa kau mengerti, air ini bukanlah
Bukan permainan~… an~…

Chorus:
Ku tak bisa nyuci baju kotor lagi
Ku tak bisa buat ku bebersih lagi
Tanpa air, tak akan baik saja
Hemat air, kau akan baik saja
Ku tak bisa buat badan bersih, la~gi~…

Bila nanti, engkau mandi,
Jangan boros air bersih lagi

[Pre Chorus]
[Chorus]

Bila nanti, aku mandi (Tanpa air, tak akan baik saja)
jangan boros, hemat air lagi (hemat air, kau akan baik saja)
Bila nanti, aku mandi (Tanpa air, tak akan baik saja)
Tak kan ada, bau badan lagi (hemat air, kau akan baik saja)

Ku tak bisa nyuci baju kotor lagi (Tanpa air, tak akan baik saja)
Ku tak bisa buat ku bebersih lagi (Hemat air, kau akan baik saja)
(2x)

Bila nanti, aku mandi (jangan, jangan boros air bersih lagi)
Jangan lagi, boros air bersih

Bila nanti, engkau mandi,
jangan boros air bersih lagi…

note:

  • dibuat dalam rangka kekurangan air bersih
  • ubahan dari lagu “Bukan Permainan” cipt. Dewiq tanpa seijin penulisnya

Setelah sekian lama…

setelah lama tak menulis… akhirnya…
cuma mau nulis…

sibuk euy!!! hahaha!!!

asyiknya bersibuk ria sambil denger “Mati suri di taman”-nya Sore… hohoho…
Bandung cuacanya lagi cerah…
pagi dingin, siang agak panas, malam dingin… hohoho… banyak-banyak minum aja biar ga dehidrasi.. :D

yang baca postingan ini harap ikut semangat ya!!! klo ga semangat, ta’ jitak!!!

fight!!! p(^-^)q

Jatuh Cinta

Saya sedang jatuh cinta…

dengan…

Gila-gilaan di Monas!!!

bukan masalah FPI, AKKBB, atau apapun…
cuma “foto2 gila” saya, Tri, dan Hamzah… hahaha!!!

klik di sini!!!

Untitled

Bohlam versus Neon

bohlamneon

Itu listrik kan jadi lebih irit
Bila bohlam diganti dengan neon (Inah!)
Padamkan lampu bohlamnya

Kirain lagi pada ngomongin apa
Taunya beda bohlam dengan neon (Inah!)
Gunakan lampu neon

Ada yang kenal dengan lirik di atas? Betul… Penggalan lirik tersebut berasal dari lagu “Hemat” yang dipopulerkan oleh P Project pada tahun 1994. Lagu ini merupakan parodi dari tembang milik 4 Non Blondes, “Whats Up”. Melalui lagu ini, P Project berusaha menggugah para pendengarnya untuk senantiasa berhemat, salah satunya dengan menggunakan lampu neon daripada bohlam.

posting irit sampai sini, yang boros klik aja…

Cari-cari “Mental Terjajah”

Fiuhh… sejenak istirahat dulu dari tekanan 2 Ujian dan 2 tugas…

Dari tadi iseng cari kata “Mental Terjajah” di mbah gugel. Dapet sih, banyak malah! counter di gugel menunjukkan angka 10ribu lebih! wuiiiih… tapi kok ngga ada yang mendefinisikan secara detail ya? ya udah deh.. kepengen merasakan sok tahu dulu nih.. :mrgreen:

Mental terjajah… pertama kali denger kata ini dari Prof. Emil Salim di Seminar Nasional 100 Tahun Kebangkitan Bangsa.
Kata Prof. Emil, ada … duh lupa euy!! yang saya inget sih (dan saya setujui) ada 2 mental bawaan penjajahan Belanda selama 350 tahun:

1. Minder
Yup, Minder. Minder kalau dibilang “Pinter”, “Sholeh”, “berbahasa Indonesia yang baik dan benar”,dll (poko’nya yang bagus2). Minder dengan kondisi “lebih” dari yang lain.
Kebayang ngga? jaman penjajahan dulu, orang pinter, yang sholeh2, yang punya prestasi, selalu ditekan, diburu, malah2 dibunuh sama VOC (penjajah, entah apa namanya). Jadi, jaman penjajahan dulu orang takut klo punya “kelebihan” di antara yang lain. takut mati!

2.Ngga Ada Inisiatif
Nah!! inilah turunan dari minder… setelah minder, jadinya bangsa kita ngga punya inisiatif. bisanya disuruh2 melulu. bikin jalan Anyer-Panarukan, nanem kopi, nanem teh, bikin jembatan entah-apa-nama-nya, bikin gedung yang-lupa-nama-nya, semuanya suruhan VOC.
sama kayak anak buah yang kerjanya nunggu disuruh2 sama bos. atau anak bimbingan yang nunggu dimarah2in sama dosen gara2 TA-nya ga selesai2 (duh.. kesepet euy!!!).

Tapi… harus ada batas2nya to’?
Masa’ mau pinter sendiri? kayak penjajah dong? emang bisa memajukan bangsa klo cuma sendirian?

Masa’ jadi orang terkaya di Asia Tenggara, padahal masih banyak orang2 miskin di negeri ini? kayak penjajah yang “se-enak-jidat-nya” ngambilin hasil bumi Indonesia ini dong? Kaya atas nama bangsa?

Masa’ ber-inisiatif tanpa ada kompromi dengan orang banyak? kayak Penjajah yang inisiatif bikin jalan Anyer-Panarukan dong? Ngga takut di-adu-domba?

Harusnya saya malu sama mahasiswa/mahasiswi FKUI, khususnya Dr. Sutomo, karena masih punya mental minder dan ga punya inisiatif.. huak.. huak..

hayo, anak ITB, IPB, UGM, Unpad, dll, jangan mau kalah sama mahasiswa UI (serasa adu domba gini? :p )

……………………….
……………………….

duh!!! kok malah tambah pusing!!! udahan ah…
yang mau nambahin, atau cuma mau numpang beken, monggo dipersilaken… :)

belajar lagi!!! Ujian 2 biji + tugas 2 ekor :mrgreen:

semangat!!! p(^-^)q

Fotografer Amatiran…

Beginilah nasib jadi fotografer amatiran.

Pengennya sih nangkep gambar butiran2 air. Tapi apa daya peralatan lighting yang canggih ga punya, lensa yang “wah” pun tak ada, jadi terpaksa nunggu “hujan poyan” (hujan, tapi dengan keadaan matahari yang masih terik). Untungnya, barusan hujan agak2 poyan (mendung dikit, masih banyak cahaya).
ada gambarnya loh.. sekitar 100kB, mau lanjut? klik aja..